Sabtu, 17 Desember 2011

MAKALAH PERKEMBANGAN KEPERCAYAAN PADA OARANG DEWASA DAN KONVERSI AGAMA

BAB I.
LATAR BELAKANG MASALAH

A. Pendahuluan
Di Indonesia terdiri beberapa pemeluk agama, Islam, Hindu, Budha, Kristen. Maka dari itu Indonesia sangat menjaga Toleransi beragama untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara. Pelajaran agama sendiri sudah diajarakan sejak di Sekolah Dasar, hal ini di harapkan agar sejak dini kita mengenal agama masing masing lebih mendalam dan juga ditanamkan untuk saling menghormati antar pemeluk agama agar tercipta suasana yang harmonis. Pada masa remaja, manusia sangat rentang dengan penyimpangan agama, hal ini dikarenakan pada masa ini seorang remaja mudah untuk menganut atau mencoba sesuatu yang baru meskipun itu belum tentu baik untuknya, demikian pula dalam hal beragama kurang begitu matang bila dibandingkan dengan orang dewasa.
Untuk orang dewasa sendiri Sikap keberagamaan memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengartian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan. Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai perkembangan jiwa beragama pada masa dewasa.










BAB II.
 RUMUSAN MASALAH
Dalam dunia beragama, manusia sering mengalami permasalahan dalam hal beragama khususnya pada orang dewasa, khususnya dalam hal kematangan beragama, permasalahan tersebut diantaranya :
1. Bagaiman perkembangan kepercayaan pada orang dewasa?
2.   Apa hambatan-hambatan dalam perkembangan serta kematangan beragama?


















BAB III
PEMBAHASAN

A.      Perkembangan Kepercayaan
a.      Pengertian Kepercayaan
Kepercayaan bisa di samakan arti dengan keyakinan, keyakinan sendiri terletak di dalam hati setiap individu, sehingga kita (orang lain) tidak bisa mengetahuinya jika orang tersebut tidak menunjukkannya, Kepercayaan adalah dasar pribadi subyektif untuk perilaku individu, sedangkan kebenaran adalah sebuah negara tujuan independen dari individu, misalnya, fakta / kenyataan. Misalnya, seseorang percaya bahwa sebuah jembatan tertentu cukup aman untuk mendukung dia, dan upaya untuk melintasinya, sayangnya, jembatan runtuh oleh berat badannya. Bisa dikatakan bahwa ia percaya bahwa jembatan itu aman, tetapi bahwa keyakinan ini salah. Ini tidak akan akurat untuk mengatakan bahwa ia tahu bahwa jembatan itu aman, karena jelas itu bukan. Sebaliknya, jika jembatan itu benar-benar didukung berat badannya maka ia mungkin dapat dibenarkan di kemudian memegang bahwa ia tahu jembatan sudah cukup aman untuk perjalanannya, setidaknya pada waktu tertentu.
Dalam Theaetetus dialog Plato, Socrates mempertimbangkan sejumlah teori seperti apa pengetahuan, pengetahuan yang terakhir adalah keyakinan benar yang telah "diberi akun" - yang berarti menjelaskan atau didefinisikan dalam beberapa cara. Menurut teori bahwa pengetahuan dibenarkan keyakinan benar, untuk mengetahui bahwa suatu proposisi yang diberikan adalah benar, kita tidak hanya harus percaya proposisi benar relevan, tetapi juga harus memiliki alasan yang baik untuk melakukannya. Salah satu implikasi dari ini adalah bahwa tak seorang pun akan mendapatkan pengetahuan hanya dengan percaya sesuatu yang terjadi untuk menjadi kenyataan. Misalnya, orang yang sakit tanpa pelatihan medis, tetapi dengan sikap umumnya optimis, mungkin percaya bahwa ia akan sembuh dari penyakit dengan cepat. Namun demikian, bahkan jika keyakinan ini ternyata benar, pasien tidak akan tahu bahwa ia akan sembuh karena keyakinannya tidak memiliki pembenaran. Definisi pengetahuan sebagai keyakinan yang benar dibenarkan diterima secara luas sampai tahun 1960-an. Pada saat ini, sebuah makalah yang ditulis oleh filsuf Edmund Amerika Gettier memprovokasi diskusi luas utama. Lihat teori pembenaran untuk pandangan lain pada gagasan itu.
Kepercayaan disini bisa berkembang, dalam arti dalam diri seseorang tingkat kepercayaannya dari 1 bisa bertambah menjadi 10 dan seterusnya, misalnya, seseorang yang baru masuk Islam, tentunya kepercayaan dia terhadap hal-hal yang ada di dalam agama islam masih terbatas (masih rendah). Namun seiring waktu dan pemahaman dia tentang Islam, maka kepercayaan tersebut bisa bertambah, itulah yang dinamakan perkembangan kepercayaan. ( Disini pemakalah menitikberatkan kepercayaan kepada Agama )
b.      Pengertian Dewasa
Saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kematangan jiwa mereka; “Saya hidup dan saya tahu untuk apa,” menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup.[1] Dengan kata lain, orang dewasa nilai-nilai yang yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.
1.        Perkembangan Beragama Pada Orang Dewasa
Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa adolesen, walaupun ada juga yang merumsukkan masa adolesen ini kepada masa dewasa namun demikian dapat disebut bahwa masa adolesen adalah menginjak dewasa yang mereka mempunyai sikap pada umumnya:
a. Dapat menentukan pribadinya.
b. Dapat rnenggariskan jalan hidupnya
c. Bertanggung jawab
d. Menghimpun norma-norma sendiri
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:[2
a. Masa dewasa awal
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, priode isolasi social, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.
b. Masa dewasa madya
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan social antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.

c. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam system syaraf, perubahan penampilan.
2.   Karakteristik Sikap Keberagamaan Pada Masa Dewasa
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki cirri sebagai berikut:[3]
a.         Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
b.        Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
c.         Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
d.        Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
e.         Bersikap lebih terbuaka dan wawasan yang lebih luas.
f.         Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
g.        Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
h.        Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan social, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
3.  Kriteria Orang yang Matang dalam Beragama
Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bukunya The Varieties Of Religious Experience William James menilai secara garis besar sikap dan prilaku keagamaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu:[4]
1. Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)
Menurut William James,sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa seperti lazimnya yang terjadi pada perkembangan secara normal. Mereka meyakini suatu agama dikarenakan oleh adanya penderitaan batin antara lain mungkin diakibatkan oleh musibah, konflik batin ataupun sebab lainnya yang sulit diungkapkan secara ilmiah.
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap:[5]
- Pesimis
Dalam mengamalkan ajaran agama mereka cenderung bersikap pasrah diri kepada nasib yang telah mereka terima.
- Intovert
Sifat pesimis membawa mereka untuk bersikap objektif. Segala marabahaya dan penderitaan selalu dihubungkannya dengan kesalahan diri dan dosa yang telah diperbuat.
- Menyenagi paham yang ortodoks.
Sebagai pengaruh sifat pesimis dan introvert kehidupan jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.



2. Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)
Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalm bukunya Religion Psychology adalah:[6]
- Optimis dan gembira
Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis. Pahala menurut pandangannya adalah sebagai hasil jerih payah yang diberikan Tuhan. Sebaliknya, segala bentuk musibah dan penderitaan yang dianggap sebagai keteledoran dan kesalahan yang dibuatnya dan tidak beranggapan sebagai peringatan Tuhan terhadap dosa manusia.
- Ektrovet dan tak mendalam
Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jasmani ini menyebabkan mereka mudah melupakankesan-kesan buruk dan luka hati yang tergores sebagai ekses agamis tindakannya.
- Menyenagi ajaran ketauhidan yang liberal
Sebagai pengaruh kepribadaian yang ekstrovet maka mereka cenderung;
1) Menyenangi teologi yang luwes dan tidak kaku
2) Menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas
3) Mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara sosial.
c. Masalah-masalah Keberagamaan Pada Masa Dewasa
Seorang ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa sebagai berikut;
1.         Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambildengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
2.         Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
3.         Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.

B.       Konversi Agama
1.      Pengertian Konversi Agama
Konversi agama menurut etimologi, konversi berasal dari kata “Conversio” yang berarti : tobat, pindah, dan berubah (agama). Dan dalam bahasa Inggris disebut Conversion yang mengandung arti berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (Change From One State, or From One Religion, to Another).
Maka dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian : bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama (menjadi paderi).
2.      Faktor yang Menyebabkan terjadimya Konversi agama
William James mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya konversi agama antara lain :
a. Konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat
    kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu    
    ide yang bersemi secara mantap.
b. Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa
    suatu proses).
c. Konversi agama dapat terjadi oleh 2 faktor intern dan faktor ekstern.

    1. Faktor Intern
        a.  Kepribadian
             W. James menemukan bahwa, tipe melankolis yang memiliki kerentanan   
             perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam    
            dirinya.
       b.  Pembawaan
            Menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecendrungan urutan
kelahiran mempengaruhi konversi agama, ini dapat dilihat urutan kelahiran. Anak
sulung dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan
anak-anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stres
jiwa. Kondisi tersebut juga bisa mempengaruhi terjadinya konversi agama.

2. Faktor Ekstern
    a. Keluarga
        Terjadinya ketidakserasian, keretakan keluarga, berlainan agama, kesepian,
kesulitan seksual, tidak harmonisnya keluarga serta kurang mendapatkan
pengakuan kaum kerabat kondisi tersebut bisa saja menyebabkan seseorang
mengalami tekanan batin sehingga terjadi konversi agama dalam usahanya untuk
mencari hal-hal baru dalam rangka meredakan tekanan batin yang menimpa
dirinya.
b. Lingkungan
           Seseorang yang tinggal di suatu tempat dan merasa tersingkir dari kehidupan
    di suatu tempat dan merasa hidup sebatang kara. Pada saat ini dia
    mendambakan ketenangan batin dan tempat untuk bergantung agar kegelisahan   
    batinnya bisa hilang.
c. Perubahan Status
    Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang dapat menyebabkan terjadinya
    konversi agama. Apalagi perubahan itu terjadi secara mendadak. Seperti    
    perceraian atau kawin dengan orang yang berlainan agama.
d. Kemiskinan
    Masyarakat yang awam cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan   
    kehidupan dunia yang lebih baik.
    Dan para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa yang mempengaruhi  
    terjadinya konversi agama adalah kondisi pendidikan.

3.      PROSES KONVERSI AGAMA
Konversi Agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses konversi agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah gedung. Demikian pula seseorang yang mengalami proses konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya (agama), maka setelah terjadi konversi agama pada dirinya secara spontan pula lama ditinggalkan sama sekali.








BAB IV.
KESIMPULAN
Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung, dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya.
Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan. Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. Kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.
1. Menurut Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:[2
a. Masa deasa awal
b. Masa dewasa madya
c. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
2. Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa    antara lain memiliki cirri sebagai berikut:[3]
a.         Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
b.    Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
c.    Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
d.   Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
e.    Bersikap lebih terbuaka dan wawasan yang lebih luas.
f.     Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
g.    Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
h.    Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan social, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
3.  Seorang ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa   dewasa sebagai berikut;
a.       Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambildengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b.      Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
c.         Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.











BAB V
PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat, semoga apa yang kami sajikan di atas dapat bermanfaat bagi pembaca, guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kritik dan saran sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah ini kedepannya.



















DAFTAR PUSTA
[1]Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 105
[2] Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004 hal. 83
[3]Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 107- 108
[4]Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 124
[5]Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama,…. hal. 126
[6]Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 130







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar